Oleh: Drs. Buralimar, M.Si
Kritik dan harapan adalah dua sisi yang tidak mungkin dipisahkan dari perjalanan Timnas Indonesia. Ketika menang, publik bersorak. Ketika kalah, kritik pun datang. Itu hukum sederhana dalam sepak bola profesional.
Karena itu, Timnas Indonesia jangan sensi dan baperan ketika kritik datang. Justru kritik harus dijadikan bahan bakar untuk berbenah, bukan dianggap sebagai serangan terhadap pribadi.
Harapan pecinta sepak bola Indonesia sebenarnya sederhana. Mereka tidak sedang menuntut Garuda langsung menjadi juara dunia. Mereka hanya ingin melihat Merah Putih berdiri sebagai yang terbaik di Asia Tenggara. Tetapi harapan sederhana itu kembali kandas di ASEAN Hyundai Cup 2026.
Indonesia tersingkir di fase grup setelah bermain imbang 1-1 melawan Singapura pada 7 Agustus 2026. Hasil tersebut membuat Indonesia finis di posisi ketiga Grup A, sementara Vietnam dan Singapura melaju ke semifinal. Sebelumnya, Indonesia juga dihantam Vietnam 0-3 di Stadion Pakansari. (ASEAN United FC)
Yang membuat publik kecewa bukan semata-mata kegagalan lolos ke semifinal. Yang lebih mengganggu adalah cara kegagalan itu terjadi.
Indonesia datang dengan ekspektasi tinggi. Materi pemain dianggap lebih kuat dibanding sejumlah negara pesaing. Banyak pemain memiliki pengalaman bermain di luar negeri, bahkan di kompetisi Eropa.
John Herdman juga datang dengan reputasi internasional yang tidak kecil. Pelatih kelahiran Inggris itu pernah membawa tim putra Kanada tampil di Piala Dunia 2022 dan sebelumnya sukses menangani tim putri Kanada. Karena itu, wajar apabila publik berharap banyak.
Tetapi sepak bola tidak pernah dimenangkan oleh nama besar, reputasi, nilai pasar pemain, atau jumlah pengikut di media sosial. Pertandingan dimenangkan oleh organisasi permainan, disiplin, kebugaran, keberanian mengambil keputusan, mental bertanding, dan kemampuan membaca perubahan situasi.
Di sinilah pertanyaan besar harus diajukan.
Mengapa Indonesia kembali gagal di turnamen yang secara historis justru paling dekat dengan level kompetitif kita?
Indonesia memang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kekuatan besar ASEAN. Sejak era Piala Tiger hingga ASEAN Championship, Garuda enam kali mencapai final, yakni pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Namun semuanya berakhir sebagai runner-up. Indonesia menjadi tim dengan jumlah final terbanyak yang belum pernah mengangkat trofi juara.
Ironisnya, ketika generasi sekarang diharapkan memutus kutukan tersebut, Indonesia malah berhenti di fase grup.
Padahal beberapa tahun terakhir memberikan alasan kuat untuk optimistis. Timnas senior kembali tampil di Piala Asia. Tim kelompok umur juga menunjukkan kemajuan. Indonesia mampu menembus Piala Asia U-17, U-20 dan U-23, bahkan tim U-23 mencapai semifinal Piala Asia U-23 2024 dan hanya selangkah lagi menuju Olimpiade Paris.
Artinya, fondasi sebenarnya mulai terbentuk.
Lalu mengapa ketika masuk ke turnamen ASEAN, performanya justru tidak sesuai harapan?
Pertanyaan itu tidak boleh dijawab dengan mencari satu kambing hitam.
Jangan buru-buru menyalahkan pemain. Jangan pula buru-buru memecat pelatih. Jangan pula membela semua kesalahan dengan alasan “proses”. Yang dibutuhkan sekarang adalah evaluasi yang jujur, terbuka, dan berbasis data.
Pemain harus menerima kenyataan bahwa seragam Timnas bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab. Ketika mengenakan Merah Putih, standar profesional harus lebih tinggi. Fisik harus terjaga, disiplin harus kuat, konsentrasi harus penuh, dan kehidupan di luar lapangan harus dikendalikan.
Media sosial bukan masalah. Menjadi populer juga bukan dosa. Pemain sepak bola modern memang hidup berdampingan dengan media digital. Tetapi ketika popularitas mulai lebih besar daripada prestasi, di situlah masalah muncul.
Publik tidak meminta pemain menjadi robot. Publik hanya ingin melihat kesungguhan.
Kalau menit ke-60 mulai kehilangan tenaga, kalau konsentrasi turun menjelang pertandingan berakhir, kalau tekanan lawan membuat permainan berantakan, maka persoalannya harus dibedah secara ilmiah. Apakah masalah kebugaran? Program latihan? Recovery? Nutrisi? Beban pertandingan? Psikologi? Atau memang sistem permainan tidak mampu menjaga intensitas?
Semua harus dievaluasi dan diakui jangan mudah jadi siloer, sensi, melo dan baper atas kritik apalagi harapan, termasuk John Herdman.
Kita harus adil. Herdman bukan pelatih sembarangan. Ia memiliki pengalaman membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 dan pernah sukses bersama tim nasional putri Kanada. Karena itu, keputusan PSSI menunjuknya pada Januari 2026 tentu bukan tanpa pertimbangan.
Tetapi reputasi masa lalu tidak boleh menjadi tameng dari evaluasi hari ini.
Herdman harus mampu menjawab mengapa permainan Indonesia mudah kehilangan arah ketika rencana awal tidak berjalan. Mengapa perubahan strategi tidak selalu terlihat efektif. Mengapa ketika lawan mampu menutup jalur permainan utama, Indonesia kesulitan menemukan alternatif. Inilah yang harus diperbaiki.
Pelatih kepala tidak cukup hanya memiliki konsep sebelum pertandingan. Sepak bola modern menuntut kemampuan membaca pertandingan dari menit ke menit. Ketika lawan mengubah pendekatan, tim juga harus mampu merespons. Ketika pemain kehilangan tenaga, pergantian harus tepat. Ketika lini tengah dikuasai lawan, harus ada solusi. Ketika serangan buntu, harus ada variasi.
Tidak ada salahnya publik mempertanyakan keputusan taktik Herdman. Justru itulah bagian dari evaluasi profesional.
Namun kritik terhadap Herdman juga harus proporsional. Jangan menjadikan satu turnamen sebagai alasan untuk kembali ke kebiasaan lama: kalah, pecat pelatih, ganti pemain, kemudian mengulang semuanya dari nol.
Tim nasional tidak bisa dibangun dengan budaya bongkar-pasang setiap kali hasil mengecewakan.
Ronny Pangemanan atau Bung Ropan sebelumnya bahkan pernah sangat optimistis terhadap peluang Indonesia di ASEAN Championship 2026. Dalam salah satu pernyataannya pada awal tahun, ia menilai Herdman dapat membawa perubahan positif dan bahkan sangat yakin Indonesia mampu bersaing untuk menjadi juara.
Optimisme seperti itu penting. Tetapi sepak bola juga mengajarkan bahwa prediksi dan kenyataan di lapangan adalah dua hal berbeda. Karena itu, setelah kegagalan terjadi, yang jauh lebih penting bukan mencari siapa yang salah dalam memberikan prediksi, melainkan mengapa optimisme tersebut tidak berhasil diwujudkan menjadi performa nyata.
Di sinilah PSSI juga harus berani bercermin. Jangan hanya tampil ketika Timnas menang. Jangan pula menghilang ketika publik menuntut penjelasan.
PSSI memang sudah menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah Indonesia tersingkir dari ASEAN Championship 2026. Langkah itu harus diterjemahkan menjadi evaluasi yang benar-benar menyentuh akar persoalan, bukan sekadar rapat, konferensi pers, lalu semuanya kembali seperti semula.
Evaluasi harus mencakup program Timnas, kompetisi domestik, kualitas pemain, kalender pertandingan, pembinaan usia muda, kualitas pelatih, kebugaran, sport science, psikologi olahraga, scouting, hingga kualitas perangkat pertandingan.
Jangan pula menjadikan VAR sebagai obat untuk semua persoalan. Teknologi hanya alat. Sepak bola tetap membutuhkan integritas manusia, kualitas wasit, kompetisi yang sehat, dan sistem pembinaan yang konsisten.
Kita juga harus berhenti membangun Timnas hanya ketika turnamen sudah di depan mata.
Pembinaan pemain harus berjalan sepanjang tahun. Kompetisi usia muda harus serius. Akademi harus memiliki standar. Pelatih lokal harus terus ditingkatkan kualitasnya. Pemain muda harus mendapatkan menit bermain yang cukup. Dan klub harus menjadi bagian dari ekosistem, bukan sekadar tempat memasok pemain ketika Timnas memanggil.
Yang paling penting, jangan sampai kegagalan ASEAN Championship 2026 membuat kita kembali kehilangan arah.
Indonesia sebenarnya sedang berada dalam fase penting. Infrastruktur sepak bola mulai berkembang. Pemain diaspora semakin banyak. Kompetisi semakin mendapat perhatian. Dukungan publik luar biasa besar. Stadion penuh. Jersey terjual. Media sosial Timnas memiliki pengikut dalam jumlah besar. Energi masyarakat terhadap sepak bola begitu besar.
Semua modal itu seharusnya menjadi kekuatan. Tetapi popularitas tidak otomatis menghasilkan prestasi.
Kita membutuhkan sistem yang mampu mengubah antusiasme menjadi kualitas, kualitas menjadi konsistensi, dan konsistensi menjadi gelar.
Karena itu, kepada pemain: jangan baper terhadap kritik. Kepada pelatih: jangan alergi terhadap pertanyaan taktik. Kepada PSSI: jangan defensif ketika publik meminta pertanggungjawaban. Kepada suporter: kritiklah dengan keras, tetapi tetap dengan akal sehat. Dan kepada seluruh stakeholder sepak bola Indonesia: jangan menjadikan Timnas sebagai panggung pencitraan semata.
Timnas adalah milik kita bersama. Kegagalan di ASEAN Championship 2026 memang menyakitkan. Tetapi kegagalan ini juga bisa menjadi titik balik apabila semua pihak bersedia membuka luka dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Kita tidak membutuhkan janji bahwa Indonesia pasti juara. Kita membutuhkan pekerjaan yang membuat Indonesia pantas menjadi juara.
Dan kita tidak membutuhkan pemain, pelatih, ataupun pengurus yang mudah tersinggung oleh kritik. Kita membutuhkan orang-orang yang cukup dewasa untuk mendengar, cukup berani untuk mengakui kesalahan, dan cukup keras kepala untuk memperbaikinya.
Jangan baper , sensi dan melo ataupun julid karena kritik. Dengarkan kritik itu. Sebab di balik kritik suporter yang kadang terdengar keras, ada cinta dab kasih sayang yang jauh lebih besar kepada Garuda.
Indonesia boleh gagal hari ini. Tetapi jangan sampai kegagalan itu kembali menjadi kebiasaan. Sudah waktunya Garuda belajar dari luka, bukan sibuk mencari alasan.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar memenangkan satu pertandingan.
Tujuan akhirnya adalah membangun Timnas Indonesia yang disegani, konsisten, bermental juara, dan suatu hari nanti benar-benar mampu berdiri paling tinggi di ASEAN, Asia, bahkan dunia. Semoga
(Batam, 11 Agustus 2026)












