Oleh: Drs. Buralimar, M.Si
Terngiang kembali satu bait tua dari penyanyi nyentrik Iwan Fals dalam lagu berjudul Sumbang. Liriknya” Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita, bukan satu alasan untuk kita tinggalkan. Banyaknya persoalan yang datang tak kenal kasihan, menyerang dalam gelap”.
Bait itu tidak hanya berteriak, ia juga berbisik. Tapi bisiknya tinggal lama di dada. Kadang bisikan justru lebih lama tinggal daripada teriakan. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menatap bendera di depan rumah, lalu bertanya kepada diri sendiri.
Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita bukan alasan untuk menurunkannya. Kusamnya warna bukan alasan untuk berpaling. Koyaknya ujung kain bukan tanda bahwa negeri ini harus kita tinggalkan. Sebab ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kain merah dan putih yang berkibar di ujung tiang. Di sana ada sejarah, ada darah, ada doa, ada air mata, ada pengorbanan, dan ada harapan jutaan manusia yang pernah percaya bahwa suatu hari anak cucu mereka akan hidup sebagai bangsa yang merdeka.
Kata sumbang sendiri memang punya dua wajah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ia sering terdengar miring. Sumbang berarti melanggar adat dan kepatutan, keliru dan janggal, tidak selaras seperti suara yang sember dan fals. Dalam paragraf, kita mengenal kalimat sumbang, kalimat yang keluar dari topik, yang tidak padu dengan gagasan utama. Ia mengganggu harmoni.
Namun sumbang juga punya wajah lain yang teduh. Ada frasa sumbang saran, sumbang pikir, sumbangan tenaga. Di sana sumbang berarti memberi, mengulurkan, menambahkan sesuatu agar yang kurang menjadi cukup. Dari akar yang sama, satu bisa merusak nada, satu lagi bisa menambal atap yang bocor.
Mungkin bangsa kita hari ini sedang hidup di antara dua sumbang itu. Di media massa, di warung kopi, di kolom komentar, di ruang-ruang diskusi, di jalanan, dan di media sosial, terdengar rintihan, keluhan, aspirasi yang terbuka. Ada rasa tidak puas, ada rasa peduli, ada juga lelah pribadi yang bercampur dengan tanggung jawab sosial. Ada keluhan, ada kritik, ada kemarahan, tetapi di antara semua itu masih ada kepedulian yang tulus. Semua itu sumbang. Kita sedang berbicara tentang negeri ini karena kita masih merasa memiliki negeri ini. Pertanyaannya, sumbang yang mana yang sedang kita pilih, sumbang yang memecah irama atau sumbang yang memberi saran, sumbang yang menebar kebencian atau sumbang yang menyumbangkan pikiran, sumbang yang membuat rumah semakin retak atau sumbang yang datang membawa tangan untuk memperbaikinya.
Kita maklum, jalan kita bukan jalan yang baru diaspal kemarin sore. Perjalanan Indonesia bukan perjalanan yang pendek. Kemerdekaan ini direbut dengan luka, dengan lapar, dengan doa yang putus-putus di antara desing peluru para pahlawan kita. Jalan menuju kemerdekaan tidak dibangun dengan kenyamanan. Ia dirintis oleh kaki-kaki yang berjalan di tanah berlumpur, oleh tubuh yang menahan lapar, oleh ibu-ibu yang kehilangan anak, oleh anak-anak yang kehilangan bapak, dan oleh para pejuang yang mungkin pergi untuk selamanya tanpa pernah sempat melihat seperti apa wajah Indonesia yang mereka impikan.
Kemerdekaan kita lahir dari luka yang panjang. Ia lahir dari darah yang tumpah di tanah, dari doa yang dipanjatkan dengan suara bergetar, dari malam-malam yang dilewati dalam ketakutan, dari keberanian orang-orang biasa yang memilih melawan karena mereka percaya bahwa sebuah bangsa berhak menentukan nasibnya sendiri.
Para pahlawan itu telah pergi. Tetapi Indonesia yang mereka perjuangkan masih tinggal bersama kita. Mereka mungkin tidak sempat menikmati kemerdekaan seperti yang kita rasakan sekarang. Mereka tidak sempat melihat anak-anak sekolah mengibarkan Merah Putih di halaman sekolah, tidak sempat menyaksikan pesawat terbang membawa bendera bangsa ke berbagai penjuru dunia, tidak sempat menikmati jalan-jalan yang kita lewati, teknologi yang kita gunakan, atau kemajuan yang kita banggakan. Namun mereka meninggalkan sesuatu yang lebih mahal daripada semua itu, sebuah negeri. Dan negeri itu kini berada di tangan kita.
Dan mengisi kemerdekaan pun sama beratnya, dengan suka duka yang tidak pernah selesai. Bentuk perjuangan memang berubah. Kita tidak lagi selalu berhadapan dengan penjajah bersenjata, tetapi kita berhadapan dengan kemiskinan, kebodohan, ketimpangan, ketidakadilan, keserakahan, ego, perpecahan, dan berbagai persoalan lain yang kadang tumbuh justru di dalam rumah kita sendiri.
Maka di sempena ke- 81 tahun kemerdekaan negara kita bernama Indonesia, tahun 2026 ini, wajar jika kita merasa capek. Kalau kita kecewa, itu juga manusiawi. Kalau kita marah melihat ketidakadilan, itu bukan dosa. Kalau kita bertanya mengapa negeri yang begitu kaya masih menyisakan begitu banyak rakyat yang harus berjuang keras hanya untuk sekadar hidup, pertanyaan itu pun sah adanya. Wajar jika banyak yang belum rapi. Yang tidak wajar jika kelelahan itu kita jadikan alasan untuk pergi atau disuruh lari dari kenyataaan . Yang tidak boleh adalah menjadikan semua kekecewaan itu sebagai alasan untuk berhenti mencintai Indonesia.
Kita boleh kecewa kepada pemerintah, tetapi jangan kecewa kepada tanah air. Kita boleh keras mengkritik penguasa, tetapi jangan membenci rumah tempat kita dilahirkan. Kita boleh berbeda pilihan politik, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bahwa di atas kepala kita tetap berkibar satu Merah Putih.
Di sinilah kata bijak menemukan maknanya yang asli. Bijak, bijaksana, kebijakan, kebijaksanaan. Kata-kata itu bukan hiasan pidato, ia adalah ciri khas kita, ia bahkan tertulis dalam sila keempat Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Bijak bukan berarti diam, bijak bukan berarti menutup mata. Bijak bukan berarti diam ketika melihat kesalahan, bukan berarti menutup mata terhadap ketidakadilan, bukan pula berarti menerima segala sesuatu dengan pasrah. Bijak artinya ada kelembutan di dalamnya, ada kasih sayang, ada akal budi yang menimbang sebelum memutuskan. Bijak adalah kemampuan untuk melihat kekurangan tanpa kehilangan kasih sayang. Berani mengatakan salah ketika memang salah, tetapi tidak menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk membenci seluruh rumah.
Karena itu, bijak juga berhati-hati dalam berlisan, bernarasi, berpidato dan membuat statement. Jangan ada lagi frasa tinggalkan negeri, baik terucap dari bibir pejabat maupun dari rakyat. Kita boleh pergi untuk belajar. Kita boleh pergi untuk mencari pengalaman. Kita boleh pergi untuk bekerja dan mengembangkan diri. Kita bahkan boleh tinggal jauh dari tanah kelahiran untuk sementara waktu. Tetapi jangan pernah pergi karena membenci tanah air sendiri.
Ada ungkapan lama yang sering kita dengar, kalimat asli “Our country, right or wrong “, pertama kali diucapkan oleh perwira angkatan laut Amerika Serikat, Stephen Decatur, dalam sebuah toast perjamuan tahun 1816. Bentuk lengkapnya, Our Country! In her intercourse with foreign nations may she always be in the right; but right or wrong, our country!. Stephen Decatur mempopulerkan bentuk awal sebagai bentuk loyalitas nasional dalam hubungan internasional. Lalu Carl Schurz pada 1871, seorang Senator AS, memodifikasi kalimat tersebut menjadi kritik korektif yang terkenal,”
My country, right or wrong; if right, to be kept right; and if wrong, to be set right, “ ( negaraku, benar atau salah; jika benar, jaga agar tetap benar; dan jika salah, perbaiki agar menjadi benar.
Di Indonesia, kutipan ini sering disadur oleh tokoh-tokoh nasional seperti mendiang ahli bedah dan Pahlawan Nasional Prof. Dr. R. Soeharso dengan makna, “Right or wrong is my country “, lebih-lebih kalau kita tahu, negara kita dalam keadaan tidak baik baik saja, maka justru saat itu pula kita wajib memperbaikinya. Tentu ungkapan itu bukan berarti kita membenarkan kesalahan. Justru mencintai negeri berarti berani mengakui ketika negeri ini keliru dan ikut memperbaikinya bersama. Sebab cinta yang dewasa tidak selalu memuji. Cinta yang dewasa juga mampu menegur, mengingatkan dan bertahan. Keliru dan benar, susah senangnya, sedih gembiranya, kita jalani di rumah kita sendiri yang bernama Indonesia.
Ada pula pepatah Melayu yang tumbuh di halaman kita, “hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri”. Sebab emas di negeri orang memang tampak indah dari kejauhan, tetapi emas itu belum tentu jatuh ke tangan kita. Tapi batu di negeri sendiri bisa kita pungut, kita olah, kita susun menjadi bangunan, menjadi ornamen, menjadi penghasilan, menjadi masa depan. Batu itu bisa kita jadikan fondasi, kita jadikan rumah, jalan, jembatan, dan pijakan untuk masa depan.
Begitu juga agama mengingatkan dengan kalimat yang lembut, “hubbul wathan minal iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Cinta itu bukan karena tanahnya sempurna, tapi karena di sanalah kita belajar menjadi manusia. Cinta itu bukan karena tanah air selalu sempurna. Cinta justru tumbuh karena di sanalah kita dilahirkan, dibesarkan, mencari rezeki, membesarkan anak-anak, menguburkan orang-orang yang kita cintai, dan menitipkan harapan kepada generasi yang akan datang.
Sempena 81 tahun kemerdekaan RI adalah momentum merefleksi diri secara jujur dan kesadaran penuh, untuk evaluasi, untuk introspeksi, untuk tabayyun, untuk saling mengklarifikasi peran diri masing-masing dengan hati yang jernih. Sempena ini seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk saling menyalahkan. Kita perlu menundukkan kepala. Membersihkan hati. Melihat kembali perjalanan panjang bangsa ini dengan mata yang lebih jernih. Apa yang telah kita capai? Apa yang masih gagal kita selesaikan? Apa yang harus diperbaiki pemerintah? Apa yang harus dilakukan dunia usaha? Dan apa yang harus kita lakukan sebagai masyarakat? Hal ini dimaksudkan juga agar kita sadar bahwa kita wajib berjuang karena perjuangan belum selesai, dan perjuangan harus diiringi dengan cara terbaik menghargai jasa para pahlawan karena tanpa mereka kita bukanlah apa-apa.
Refleksi bukan hanya dengan upacara megah, tapi dengan kesetiaan dan penghargaan walau kecil tapi harus dan terus-menerus, tiada terputus, bukan hanya dengan memasang bendera selama bulan kemerdekaan, dan bukan pula hanya dengan menyebut nama mereka dalam pidato-pidato seremonial. Menghormati pahlawan adalah meneruskan pekerjaan yang belum sempat mereka selesaikan.
Menjaga integritas ketika tidak ada yang melihat, bekerja dengan cinta dan sungguh-sungguh, menolong orang lain ketika mampu, mendidik anak-anak dengan baik, tidak mengambil sesuatu yang bukan hak, tidak menyebarkan fitnah, tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan, adalah bagian integral dari nilai evaluasi dan introspeksi ity sendiri. Dan ketika ada sesuatu yang bisa kita perbaiki, jangan berpaling seolah-olah itu bukan urusan kita. Jika tidak bisa dengan karya, lakukan dengan kata, dan jika berat mengatakan maka katakan dengan hati, dan jika hati masih masih membara maka diam adalah sikap bijak tanpa menghilangkan kebaikan dan keburukan.
Maka tak ada salahnya jika di depan rumah kita masih berkibar bendera yang warnanya telah kusam, yang ujungnya telah koyak, yang tiangnya hanya dari kayu atau bambu yang kita potong sendiri, kita kibarkan dan naikkan. Tidak peduli ketika ujungnya mulai koyak diterpa hujan dan panas. Tidak masalah jika tiangnya hanya sebatang kayu atau bambu. Naikkanlah tetap dengan bangga. Justru di situlah masih ada benih patriotisme dan nasionalisme yang hidup. Bendera yang lusuh tanda kasih kita yang menyimpannya di lemari tua, tanda kita masih setia, tanda kita berbudi dan menghargai bahwa masih ada yang patut kita hormati yakni jasa pahlawan yang mendirikan negeri yang bernama Indonesia. Bendera yang kusam bukan tanda bahwa kita miskin cinta. Ia justru bisa menjadi tanda bahwa selama bertahun-tahun kita masih menjaganya. Ia pernah basah oleh hujan, terbakar matahari, diterpa angin, tetapi tetap kita kibarkan.
Seperti Indonesia sendiri, yang berkali-kali diterpa badai, tetapi tetap berdiri. Sebab mungkin bendera itu sederhana, tetapi kesetiaan yang berada di baliknya tidak sederhana.
Dan cinta kepada tanah air memang sering kali hadir dalam bentuk yang sangat sederhana. Ia ada pada seorang ibu yang mencuci dan melipat bendera dengan hati-hati. Ia ada pada guru yang tetap mengajar meski fasilitasnya terbatas. Ia ada pada petani yang tetap menanam meski musim tidak selalu bersahabat. Ia ada pada nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit. Ia ada pada anak muda yang setelah menimba ilmu jauh-jauh memilih pulang untuk membangun kampungnya.
Cinta itu tidak selalu berbicara dengan suara besar menggelegar. Kadang ia hanya bekerja beraksi dalam senyap. Kadang ia hanya bertahan. Kadang ia hanya bisa berkata, saya masih di sini.
Kata-kata terlontar adalah doa yang terlepas keluar dari hati yang harusnya penuh dengan pertimbangan yang bijak dan santun. Kata-kata adalah doa. Karena itu doa untuk negeri ini harus kita ucapkan dengan hati yang rendah, dengan kalimat yang tawadhu, dengan harapan yang tidak putus, yang diucapkan dengan sepenuh hati. Jika hari ini doa kita untuk negeri ini belum terkabul, teruslah berdoa. Jangan berhenti. Jika hari ini doa kita belum menemukan jawaban, jangan menyerah. Sebab kita meminta kepada Sang Pencipta, bukan kepada manusia, karena jika berharap kepada manusia, ujungnya sering kecewa. Manusia bisa mengecewakan, kadang doa dalam keteraniayaan dikabulkan.
Kekuasaan bisa berubah. Jabatan bisa berakhir. Harta bisa hilang. Tetapi harapan kepada Tuhan tidak boleh padam.
Mari kita jaga dan bangkitkan rasa tiga pilar negeri, yang saling menguatkan, pemerintah atau penguasa yang bijak, pengusaha yang peduli, dan masyarakat yang santun dan berbudi.
Indonesia membutuhkan tiga kekuatan yang harus saling menguatkan itu. Ketiganya jangan berjalan sendiri-sendiri. Di mana jiwa gotong royong khas negeri kita, tolong menolong dalam kebaikan, saling welas asih, saling memikul tanggung jawab, saling nasihat menasihati dan ingat mengingati.
Kepada penguasa, rakyat membutuhkan keteladanan. Kepada pengusaha, bangsa membutuhkan kepedulian. Kepada masyarakat, negeri membutuhkan kedewasaan. Sebab sebuah bangsa tidak akan menjadi besar hanya karena pemerintahnya kuat. Bangsa menjadi besar ketika penguasa, dunia usaha dan rakyatnya sama-sama merasa bahwa negeri ini adalah rumah yang harus dijaga dan kita damai dan berteduh di dalamnya.
Jika ada kritik sekeras guntur yang berdentum di langit, jadikan nada indah, simfoni kebersamaan dan menjadi melodi harmonisasi yang mengajak berbuat terbaik. Kita boleh mengkritik sekeras yang kita mampu. Biarkan dan dengarkan keras suara kritik itu, jangan alergi dan terlalu reaktif, karena terkadang suara keras tanda sayang. Dan ketika guntur petir reda maka akan turun hujan membasahi dan menyuburi bumi pertiwi tercinta serta alam akan sejuk dalam cita cita “ gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur “. Jangan biarkan kritik menjadi petir yang membakar rumah sendiri. Jadikan ia suara keras yang akhirnya melahirkan nada baru, melodi baru, lagu baru yang menggugah jiwa sesta menciptakan keberanian baru untuk berbuat lebih baik. Kata orang tua, selagi ada kritik nasihat dan kata berarti masih ada rasa sayang dan cinta.
Kalau boleh kita pinjam bait lagunya Gombloh, “ walau matahari terbit di sebelah barat, kau tetap Indonesiaku”. Karena di sinilah tumpah darah kita. Di sinilah nenek moyang kita bersatu dengan buminya, menyatu dengan bumi, dan di atas bumi yang sama ini anak cucu kita mengais rezeki dan menitipkan harap. Di sinilah doa-doa mereka pernah dipanjatkan. Di sinilah anak cucu kita kelak membangun rumah, mengejar cita-cita dan menitipkan harapan kepada generasi setelahnya.
Kita boleh kecewa, tetapi jangan menyerah. Kita boleh menangis, tetapi jangan berhenti berharap. Kita boleh merasa negeri ini sedang jauh dari cita-cita para pendiri bangsa, tetapi jangan pernah merasa bahwa tidak ada lagi yang bisa diperbaiki. Optimis dan berbuatlah terbaik karena masih ada hari esok yang lebih cerah. Selama spirit, optimistis, dan ekspektasi masih ada, maka Indonesia belum selesai dan tetap ada.
Maka jika hari ini negeri ini belum sempurna, jangan pergi. Jika jalan terasa panjang, jangan menyerah. Jika bendera telah kusam, pasang naikkan jangan diturunkan.
Cuci. Jahit. Rawat. Kibarkan kembali. Sebab Indonesia tidak membutuhkan manusia-manusia yang hanya mencintainya ketika ia sedang berjaya. Indonesia membutuhkan orang-orang yang tetap berdiri ketika badai datang, tetap menjaga ketika warna mulai pudar, tetap menyalakan harapan ketika banyak orang memilih menyerah.
Sebab mungkin yang kusam hanyalah warna benderanya. Jangan sampai yang ikut kusam adalah hati kita. Jangan sampai yang koyak bukan hanya ujung kainnya, tetapi juga persatuan kita. Jangan sampai yang kita tinggalkan bukan hanya sebuah negeri, melainkan sebuah amanah yang diwariskan dengan darah dan air mata oleh mereka yang telah lebih dahulu gugur.
Maka, pada ke- 81 tahun Indonesia merdeka, mari kita tatap Merah Putih itu sekali lagi. Jika warnanya telah pudar, kita bantu menjaganya. Jika kainnya telah koyak, kita jahit bersama. Jika tiangnya telah miring, kita tegakkan. Dan jika negeri ini sedang terluka, jangan kita tinggalkan. Katakan kepada Indonesia, dengan suara yang mungkin lirih tetapi penuh keyakinan, aku masih di sini. Aku mungkin kecewa, tetapi aku tidak pergi. Aku mungkin lelah, tetapi aku tidak menyerah. Aku mungkin melihat banyak kekurangan, tetapi aku tetap ingin memperbaikinya. Sebab ini rumahku. Ini tanah airku. Di sinilah aku lahir. Di sinilah aku berjuang. Dan di sinilah, kelak ketika perjalanan hidup selesai, aku ingin pulang.
Dirgahayu ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Jangan pergi, meski bendera ini telah kusam. Sebab mungkin yang kusam hanyalah warnanya. Jangan sampai yang pudar adalah cinta kita kepada Indonesia.












