Kapolri Larang Seluruh Polri dan Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Polri Gunakan Vape atau Rokok Elektrik BP Batam Berikan Anugerah Investasi 2026, Apresiasi Kontribusi Investor bagi Pembangunan Batam Raih Gelar Winner First Face Kids Junior Indonesia 2026, Queenera Harumkan Nama Tanjungpinang Dilepas Wali Kota Lis, Kota Rebah Jadi Titik Awal Kirab Obor Porprov Kepri VI 2026 Sambut Kontingen PORPROV VI Kepri, Lis Harap Perkuat Persaudaraan Antar Daerah Bela Raffi Ahmad, Ketua Bidang Kastrat DPP GEMURA Rafi Amar Ajak Publik Kedepankan Objektivitas dan Hentikan Politisasi

Daerah

Analisis Kritis Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Perspektif Aktivis Kota Banjar terhadap Risiko Maladministrasi

badge-check


					Analisis Kritis Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Perspektif Aktivis Kota Banjar terhadap Risiko Maladministrasi Perbesar

FaktaBatamNews.com, Kota Banjar-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi pilar kebijakan nasional kini menghadapi diskursus kritis di tingkat lokal. Sandi Mardiana Putra, aktivis dari Kota Banjar, melontarkan kritik fundamental terhadap struktur program tersebut.

Dengan terminologi provokatif “Maling Berkedok Gizi”, Sandi membedah adanya diskrepansi antara tujuan normatif kesejahteraan dengan realitas teknokratis di lapangan.

Analisis Sandi berfokus pada tiga dimensi kegagalan sistemik yang berpotensi mendelegitimasi keberhasilan program:

1. Fragilitas Tata Kelola dan Risiko Rent-Seeking
Sandi menyoroti bahwa besarnya alokasi anggaran MBG menciptakan insentif bagi perilaku perburuan rente (rent-seeking behavior). Dalam perspektif ini, rantai pasok yang panjang dan kompleks membuka celah bagi:

Asimetri Informasi: Ketidakjelasan standar harga satuan (SST) yang memungkinkan terjadinya inflasi harga oleh pihak ketiga.

Moral Hazard: Risiko penurunan kualitas komoditas pangan demi mengejar margin keuntungan, yang secara langsung merugikan target nutrisi peserta didik.

2. Marginalisasi Ekonomi Domestik melalui Corporate Farming
Kritik kedua menyasar pada model logistik. Sandi berargumen bahwa tanpa regulasi yang mewajibkan penyerapan komoditas dari petani lokal Kota Banjar, program ini justru akan memicu:

Ketimpangan Distribusi Nilai Tambah: Keuntungan ekonomi cenderung terakumulasi pada korporasi penyedia jasa logistik skala besar (agregator nasional).

Erosi Ekonomi Mikro: Kegagalan mengintegrasikan UMKM dan sektor pertanian lokal dalam ekosistem MBG dapat mematikan sirkulasi ekonomi di daerah, menciptakan ketergantungan pada pasokan eksternal.

3. Politisasi Kebijakan dan Defisit Akuntabilitas Gizi
Sandi memandang adanya potensi komodifikasi kebijakan, di mana program gizi digunakan sebagai instrumen pencitraan politik (political branding) tanpa dibarengi dengan instrumen pengawasan yang ketat.

Kuantitas vs Kualitas: Terdapat kekhawatiran bahwa pemerintah lebih mengejar angka capaian partisipasi (output) dibandingkan dampak kesehatan jangka panjang (outcome).

Defisit Pengawasan Masyarakat: Istilah “Maling” yang digunakan Sandi merujuk pada “pencurian” potensi sumber daya publik akibat sistem pengawasan yang tidak inklusif dan tertutup dari partisipasi publik secara langsung.
Kesimpulan dan Rekomendasi Akademis
Secara teoretis, Sandi Mardiana Putra menekankan bahwa tanpa adanya transparansi radikal dan decentralized procurement (pengadaan terdesentralisasi), MBG berisiko menjadi skandal maladministrasi besar.

Ia menuntut adanya sistem audit independen yang melibatkan elemen sipil di Kota Banjar untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar bertransformasi menjadi kalori dan protein berkualitas bagi generasi mendatang.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Daarurrahmah Cup V Resmi Dibuka, Jadi Ajang Silaturahmi dan Unjuk Bakat Pelajar SD/MI se-Kabupaten Bekasi

28 Oktober 2026 - 21:31 WIB

PA GMNI Jabar Siap Jadi Mitra Strategis & Kritis Pemerintah

26 Oktober 2026 - 01:07 WIB

PW PII Kalbar Bersama PD PII Pontianak Audiensi dengan Disporapar, Dorong Pengembangan Potensi dan Kepemimpinan Pemuda Pelajar

21 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Bukan Sekadar Persoalan Satu Pasien, Kasus Infus Balita di Karawang Jadi Momentum Pembenahan Pelayanan Kesehatan

2 Oktober 2026 - 15:46 WIB

Dinkes Karawang Diminta Beri sangsi terhadap R.S Permata Keluarga Kasus Dugaan Kelalaian Pelayanan Anak

2 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Trending di Jawa Barat