oleh

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan, Gelombang Protes Tolak Perang Iran Meluas

-Berita, Dunia-115 Dilihat

FaktaBatamNews.Com. New York-Gelombang demonstrasi besar-besaran melanda berbagai wilayah Amerika Serikat pada akhir Maret 2026, ketika jutaan warga turun ke jalan menyuarakan penolakan terhadap perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Aksi yang dikenal sebagai gerakan “No Kings” ini berlangsung serentak di lebih dari 3.000 titik di seluruh negeri, mencakup seluruh 50 negara bagian. Demonstrasi tersebut disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat.

banner 400x130

Skala Nasional dan Partisipasi Massif
Di kota-kota besar seperti New York, Washington D.C., Los Angeles, Chicago, hingga San Francisco, ribuan hingga ratusan ribu demonstran memenuhi jalan-jalan utama. Aksi juga terjadi di puluhan kota lainnya, menunjukkan luasnya penolakan publik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah.

Di Manhattan, puluhan ribu orang berkumpul dan melakukan long march sambil membawa poster bertuliskan “No New War” dan “Hands Off Iran.”

Sementara itu, di berbagai titik lain, demonstrasi diwarnai orasi, pertunjukan musik, hingga aksi simbolik untuk mengenang korban konflik.

Penolakan terhadap Kebijakan Perang
Para demonstran secara tegas menolak operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dinilai memperburuk situasi global dan membebani ekonomi domestik.

Isu utama yang diangkat meliputi: Eskalasi konflik yang dinilai tidak perlu, kenaikan harga energi dan biaya hidup, kekhawatiran terhadap potensi perang berkepanjangan, dugaan pelanggaran hukum internasional.

Sejumlah peserta aksi menyebut perang tersebut tidak memberikan manfaat langsung bagi rakyat Amerika, melainkan justru meningkatkan tekanan ekonomi.

Latar Belakang Konflik
Aksi protes ini dipicu oleh meningkatnya konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal 2026, setelah serangan militer besar dilancarkan oleh AS dan sekutunya. Konflik tersebut memicu balasan dari Iran dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Sejak saat itu, aksi demonstrasi anti-perang terus bermunculan di berbagai kota di AS, baik di depan Gedung Putih maupun pusat-pusat kota besar.

Gerakan Terorganisir dan Isu Lebih Luas
Demonstrasi ini digerakkan oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, serikat pekerja, dan kelompok aktivis, termasuk koalisi anti-perang dan organisasi progresif.

Selain menolak perang, massa juga mengkritik kebijakan pemerintah terkait imigrasi, pemotongan anggaran kesehatan, serta isu demokrasi dan kepemimpinan nasional.

Slogan-slogan seperti “No Kings” mencerminkan kekhawatiran publik terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter, terutama dalam pengambilan keputusan terkait perang.

Respons Pemerintah
Pihak Gedung Putih merespons aksi tersebut dengan meremehkan signifikansinya, menyebut demonstrasi sebagai gerakan politik yang tidak mencerminkan mayoritas publik.

Namun, skala dan intensitas aksi menunjukkan meningkatnya tekanan domestik terhadap pemerintah terkait kebijakan luar negeri, khususnya keterlibatan dalam konflik Iran.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *