oleh

Menikah hingga Putus Sekolah, 19 Siswa Kepri Tak Lulus

-Kepri-24 Dilihat

Faktabatamnews.com. Batam-Tingkat kelulusan pelajar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tahun ajaran 2025/2026 tetap tergolong tinggi.

Namun, di balik angka yang nyaris sempurna itu, terselip kisah 19 siswa SMA dan SMK yang harus tertunda langkahnya menuju kelulusan.

banner 400x130

Data dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kepri mencatat, dari total 32.499 siswa yang dinyatakan lulus, masih ada 19 siswa yang belum berhasil menuntaskan pendidikannya.

Angka ini memang kecil, tetapi tetap menjadi perhatian karena menyangkut masa depan generasi muda.

Kepala Disdik Kepri, Andi Agung, mengungkapkan bahwa mayoritas siswa yang tidak lulus berasal dari jenjang SMK.

Dari total tersebut, 18 siswa merupakan pelajar SMK, sementara satu lainnya berasal dari SMA.

“Penyebabnya beragam. Ada yang tidak mengikuti proses pembelajaran secara penuh, dan ada juga yang memilih menikah sehingga berhenti sekolah,” ujarnya, Selasa (5/5), dikutip batampos.

Fenomena ini paling banyak ditemukan di Batam, yang menjadi salah satu daerah dengan jumlah siswa tidak lulus terbanyak di Kepri.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa tantangan dunia pendidikan tidak hanya berkutat pada akademik, tetapi juga persoalan sosial yang memengaruhi keberlangsungan belajar siswa.

Salah satu kasus yang mencuri perhatian adalah siswa yang memutuskan menikah sebelum menyelesaikan pendidikan.

Pilihan tersebut membuatnya harus menghentikan sekolah, sekaligus mengubur sementara impian untuk lulus bersama rekan-rekannya.

Meski demikian, Disdik Kepri menegaskan bahwa pintu pendidikan tidak pernah benar-benar tertutup. Pemerintah tetap memberikan kesempatan bagi siswa yang belum lulus untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur alternatif.

Mereka dapat mengikuti program kesetaraan Paket C atau kembali mengulang pendidikan di kelas XII selama satu tahun. Langkah ini diharapkan menjadi solusi agar setiap anak tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak.

“Ini bagian dari komitmen kami agar tidak ada anak yang tertinggal dalam akses pendidikan,” tambah Andi.

Selain itu, Disdik Kepri juga berencana meningkatkan pengawasan terhadap satuan pendidikan, guna meminimalisir angka ketidaklulusan di masa mendatang.

Pendekatan ini tidak hanya fokus pada sekolah, tetapi juga melibatkan peran orang tua dan lingkungan.

Secara keseluruhan, tingkat kelulusan di Kepri tahun ini tetap stabil dan tinggi, bahkan tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 99,95 persen.

Namun, kisah 19 siswa ini menjadi pengingat bahwa di balik statistik yang menggembirakan, masih ada cerita-cerita yang membutuhkan perhatian lebih.

Pendidikan bukan sekadar angka kelulusan, tetapi tentang memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan. (Red,)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *