Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri Lintas Sektor di Kepri Gelar Rapat Persiapan Hadapi Puncak Musim Hujan dan Dampak Perubahan Iklim Perkuat Pertahanan Negara, Pemko Batam Kirim 35 ASN Ikuti Seleksi Komcad Putra Aceh Rahmat Al Qahhar Kecam Keras Dugaan Penembakan Warga Di Pidie: Darah Kembali Tumpah Di Tanah Aceh, Usut Tuntas PB PII Sampaikan 7 Rekomendasi Strategis dalam RDPU Komisi III DPR RI, Dukung RUU Perampasan Aset yang Berkeadilan Indonesia Darurat Kemanusiaan Dan Ekologi: Istana Sibuk Saling Sikut Kepentingan, Rakyat Dan Alam Menanggung Korban

Opini

Pemuda dan Masa Depan Indonesia: Berhenti Seremonial, Mulai Bergerak

badge-check


					Pemuda dan Masa Depan Indonesia: Berhenti Seremonial, Mulai Bergerak Perbesar

‎Oleh Evensianus Dahe Jawang
‎
‎Pada 28 Oktober 1928, para pemuda Indonesia mencatat sejarah dengan melampaui sekat suku, daerah, dan kepentingan kelompok demi satu cita-cita: Indonesia yang bersatu. Melalui Kongres Pemuda II, lahirlah Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak penting tumbuhnya kesadaran kebangsaan.
‎
‎Kini, 98 tahun kemudian, kita patut bertanya apakah generasi muda hari ini benar-benar meneruskan semangat perjuangan itu, atau hanya sibuk merayakannya dalam seremoni tahunan?
‎Pemuda 1928 berani membangun persatuan di tengah penjajahan. Pemuda hari ini harus berani menghadapi ketidakadilan, korupsi, pengangguran, ketimpangan sosial, dan berbagai persoalan yang menghambat kemajuan bangsa.
‎
‎Sayangnya, semangat perubahan terkadang berhenti pada slogan, perdebatan media sosial, dan gerakan yang kehilangan arah. Kritik terdengar lantang, tetapi tidak selalu disertai solusi. Idealisme dikumandangkan, tetapi sering diuji ketika berhadapan dengan jabatan, kepentingan, dan kekuasaan.
‎
‎Sumpah Pemuda tidak boleh menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling nasionalis. Ia harus menjadi ukuran keberanian, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
‎Dalam demokrasi, pemuda harus berani mengkritik kekuasaan tanpa kebencian, mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat tanpa kehilangan daya kritis, serta menolak kepentingan sesaat yang mengorbankan masa depan bangsa.
‎
‎Organisasi kepemudaan dan gerakan mahasiswa juga harus melakukan introspeksi. Gerakan tidak cukup diukur dari banyaknya massa, kerasnya kritik, atau ramainya pernyataan sikap. Gerakan harus memiliki arah, strategi, dan tujuan yang jelas. Turun ke jalan merupakan salah satu instrumen perjuangan, tetapi perubahan nyata bagi masyarakat harus tetap menjadi tujuan utamanya.
‎
‎Persatuan bukan berarti diam terhadap ketidakadilan. Nasionalisme bukan berarti membenarkan semua keputusan penguasa. Dan aktivisme bukan sekadar berbicara atau turun ke jalan, melainkan keberanian memperjuangkan perubahan yang terukur dan berpihak kepada rakyat.
‎
‎Momentum Sumpah Pemuda tahun 2026 harus menjadi titik balik bagi generasi muda untuk meninggalkan aktivisme simbolik dan mulai menghadirkan kerja nyata. Indonesia tidak kekurangan pemuda yang pandai berbicara. Yang dibutuhkan adalah pemuda yang berani bertindak, konsisten menjaga prinsip, dan tidak menjual idealisme demi kepentingan pribadi.
‎
‎Sejarah telah mencatat keberanian pemuda pada 1928. Kini, sejarah sedang menguji keberanian generasi kita. Apakah kita akan menjadi generasi yang hanya bangga menceritakan masa lalu, atau generasi yang sungguh-sungguh mengambil tanggung jawab atas masa depan Indonesia?
‎
‎Jangan hanya memperingati Sumpah Pemuda. Hidupkan,
semangatnya melalui keberanian bersikap, keteguhan menjaga persatuan, dan tindakan nyata bagi bangsa. (Red)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Melampaui Status Emerging Market : Daya Tarik Investasi Menuju Kedaulatan Ekonomi

31 Oktober 2026 - 22:15 WIB

Kebekuan Jiwa Agama

30 Oktober 2026 - 09:54 WIB

Momentum Sumpah Pemuda: Jangan Hanya Jadi Angka, Jaga Konstitusi

28 Oktober 2026 - 19:41 WIB

Opini Akademik: “Jalan Hotel Vista Batam Terus Bergelombang: Jangan Hanya Memperbaiki Aspal, Selamatkan Fondasi Tanahnya!”

28 Oktober 2026 - 15:03 WIB

Sumpah Pemuda dari Mata Perempuan: Merawat Indonesia Melalui Keberanian dan Kepedulian

28 Oktober 2026 - 13:36 WIB

Trending di Opini