Faktabatamnews.com. Jakarta-Korps HMI-Wati (KOHATI) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) melalui Bidang Hubungan Antar Lembaga resmi menyelenggarakan KOHATI Diplomacy Forum 2026 bertajuk “Diplomacy 5.0: Navigating Indonesia’s Future – National Resilience, Global Influence & Human Security”. Kegiatan strategis ini berlangsung khidmat di Aula Pengayoman, Gedung Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Jakarta. Rabu, 21/10/26
Forum ini dihadiri oleh 150 peserta terpilih yang terdiri dari kader KOHATI perwakilan berbagai cabang se-Indonesia, organisasi kepemudaan (OKP) Cipayung Plus Perempuan, hingga pengurus Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan dari Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga KOHATI PB HMI, Ratu Nisya. Dalam penyampaiannya, Ratu Nisya menekankan pentingnya peran strategis perempuan, khususnya KOHATI dalam ranah diplomasi internasional.
“Diplomasi bukan sekadar ranah formal kenegaraan, melainkan ruang perjuangan ide, gagasan, dan nilai-nilai kemanusiaan. KOHATI sebagai wadah intelektual perempuan muslimah hadir untuk mengambil peran kepemimpinan global, membawa perspektif keperempuanan, kebudayaan, serta perdamaian dalam membentuk arah diplomasi Indonesia di era 5.0,” ujar Ratu Nisya
Forum ini juga menghadirkan Keynote Speech utama dari Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril Ihza Mahendra, yang memberikan pandangan strategis mengenai penguatan hukum dan kepemimpinan Indonesia di kancah internasional bagi kader-kader HMI, Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi utama dari Prof. Yusril Ihza Mahendra yang membawakan topik “Rebuilding State Capacity: Hukum, Tata Kelola dan Kepentingan Nasional di Tengah Perubahan Global”.
Dalam paparannya, Prof. Yusril menekankan bahwa upaya rekonstruksi kapasitas negara, penegakan hukum yang berkeadilan, serta perumusan tata kelola pemerintahan yang responsif terhadap pergeseran geopolitik global tidak boleh terlepas dari nilai-nilai dasar perjuangan bangsa. Hal ini sejalan dengan komitmen keislaman dan keindonesiaan yang menjadi pijakan utama kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Sesi berikutnya diisi dengan sambutan hangat dari Ketua Umum KOHATI PB HMI, Sri Meisista. Dalam sambutannya,Sri Meisista menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum ini dan menegaskan kembali komitmen KOHATI untuk terus mencetak kader HMI-Wati akademis dan organisatoris yang berwawasan global.
Ketua Ombudsman RI, Nurzan Joher, S.Ag., M.Si., menyampaikan paparan bertajuk “Beyond Governance: Pengawasan Publik sebagai Pilar Ketahanan Nasional dan Kepercayaan Global”, yang menyoroti pentingnya tata kelola transparan demi membangun reputasi bangsa di tingkat global. Nusron mengajak seluruh kader HMI dan KOHATI untuk mengambil peran aktif sebagai kontrol sosial yang independen.Dengan mengawal jalannya pelayanan publik yang bersih, adil, dan transparan, kader HMI turut memperkuat pilar ketahanan nasional sekaligus membangun kepercayaan masyarakat internasional terhadap bangsa Indonesia.
Sesi diskusi panel makin dinamis dengan hadirnya dua narasumber ahli:
Nissa Rengganis (Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya & Hubungan Internasional), mengulas materi “Culture as Power: Diplomasi Budaya sebagai Strategi Soft Power Indonesia dalam Memperkuat Pengaruh Global Indonesia”. Ia menegaskan bahwa kekayaan budaya nasional merupakan aset diplomasi paling potensial untuk membentuk citra positif bangsa.
Astrid Nadya Rizqita (President OIC Youth Indonesia), membawakan materi mengenai peran strategis pemuda dalam diplomasi, perdamaian, dan solidaritas global sebagai fondasi mendasar dalam memperkuat Human Security.
Melalui penyelenggaraan KOHATI Diplomacy Forum 2026, KOHATI PB HMI berharap dapat memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif sekaligus mencetak kader-kader perempuan yang siap menjadi aktor diplomasi masa depan dalam menjaga ketahanan nasional serta memperkuat pengaruh Indonesia di kancah internasional. (Red)






















