Menu

Mode Gelap
Mantan Pengawal Setia Pak Harto & Sahabat Prabowo, Jenderal Berprestasi Ini Kini Pimpin Kementerian Pertahanan Wagub Vasko Usulkan Sumbar Jadi Daerah Istimewa, Fadli Zon: Sangat Pantas karena Punya Peran Penentu NKRI UU Polri Terbaru Resmi Disahkan Presiden Prabowo Subianto, Ini Aturan Baru Soal Pensiun Hingga Disabilitas SC Tetapkan Wiryawan Wira Sebagai Calon Tunggal Presiden Direktur Pertama IKAFEBM UMRAH Pemprov Kepri Raih Opini WTP Ke-16 Berturut-turut, Bukti Komitmen Tata Kelola Keuangan yang Akuntabel 82 Kampung Nelayan di Kepri Masuki Tahap Survei Topografi Sebagai Syarat Program KNMP

News

Mantan Pengawal Setia Pak Harto & Sahabat Prabowo, Jenderal Berprestasi Ini Kini Pimpin Kementerian Pertahanan

badge-check


					Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin Perbesar

Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin

Faktabatamnews.com. Jakarta-Benteng kedaulatan Indonesia kini resmi berada di bawah komando salah satu putra terbaik Korps Baret Merah. Pria karismatik kelahiran Ujungpandang, 30 Oktober 1952 ini resmi dilantik menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih.

Bukan sosok baru di dunia militer dan birokrasi pertahanan, rekam jejak Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin terbilang luar biasa matang. Jauh sebelum memimpin kementerian ini, ia adalah mantan Wakil Menteri Pertahanan periode 2010–2014 di era Presiden SBY. Atas loyalitas dan dedikasi tingginya pada negara, Presiden Prabowo Subianto pun menganugerahinya pangkat kehormatan tertinggi sebagai Jenderal (Kehormatan).

Yuk, kita ulas balik perjalanan hidup dan karier hebat sang lulusan terbaik militer ini!

Anak Tentara, Lulusan Terbaik, dan Sahabat Presiden. Sjafrie lahir sebagai anak ke-6 dari 11 bersaudara dari pasangan Sjamsoeddin Koernia dan Hamdana. Darah militer mengalir langsung dari sang ayah yang merupakan seorang mantan perwira tentara. Lingkungan keluarga inilah yang tampaknya menempa kedisiplinan keras dalam diri Sjafrie dan adiknya, Maroef Sjamsoeddin.

Memilih jalur pengabdian yang sama dengan sang ayah, Sjafrie masuk ke Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1971. Di Lembah Tidar, ia menjalin persahabatan erat dengan rekan satu angkatannya yang kini menjadi Presiden RI, Prabowo Subianto.

Sjafrie lulus pada tahun 1974 dengan menorehkan prestasi gemilang sebagai peraih Adhi Makayasa (lulusan terbaik). Guna mematangkan kapasitas strategisnya, ia kemudian menempuh pendidikan di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada tahun 1989.

Operasi Senyap Baret Merah dan Pengawal Kepercayaan Istana
Selepas dari akademi militer, Sjafrie langsung bergabung dengan satuan elite Infanteri Komando Pasukan Khusus (Kopassus) pada tahun 1975. Mengawali karier sebagai Komandan Peleton Grup 1 Kopassus, kemampuannya di lapangan membuat ia dipercaya memegang tongkat komando sebagai Komandan Nanggala X pada tahun 1976.

Salah satu penugasan bersejarahnya terjadi saat ia masih berpangkat Letnan Satu. Pada 1 Mei 1978, Sjafrie memimpin sebuah tim dalam operasi khusus untuk menjemput tokoh legendaris Aceh, Teungku Daud Beureueh, guna dibawa ke Jakarta.

Karier militernya terus meroket hingga ia dipercaya menduduki posisi sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Tugas ini menjadikannya sebagai pengawal pribadi Presiden Soeharto sekaligus salah satu orang kepercayaan yang paling setia mengawal Sang Jenderal Besar hingga detik-detik kejatuhannya pada tahun 1998.

Menavigasi Riak Kontroversi dan Dinamika Politik

Sebagai perwira yang berada di episentrum kekuasaan pada masa transisi reformasi, perjalanan karier Sjafrie tidak lepas dari sorotan tajam. Sepanjang masa dinasnya di lapangan, namanya sempat dikaitkan dalam rentetan peristiwa sejarah kelam, mulai dari operasi militer di Timor Leste hingga tuduhan saat menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya (Pangdam Jaya) di tengah berkecamuknya Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Namun, melalui serangkaian penyelidikan otoritas hukum Indonesia, Sjafrie dibebaskan dari tuduhan terkait kerusuhan tersebut dan tidak pernah secara resmi didakwa.

Kendati diterpa badai isu miring dan penolakan visa dari Amerika Serikat pada tahun 2009, karier militer Sjafrie tetap berjalan solid di Markas Besar TNI. Ia terus mendapat promosi jabatan penting, mulai dari Kapuspen TNI pada tahun 2002, hingga puncaknya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan pada tahun 2005 dengan pangkat bintang tiga, Letnan Jenderal.

Kini, hidup bahagia bersama sang istri, Etty Sudiyati, dan dikaruniai dua orang anak, sang Jenderal Kehormatan kembali ke rumah besarnya di Medan Merdeka Barat. Di bawah kepemimpinan sahabat karibnya, Presiden Prabowo, duet maut dua mantan perwira elite baret merah ini tentu diharapkan mampu membawa sistem pertahanan Indonesia makin disegani di kancah dunia. (Red)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wagub Vasko Usulkan Sumbar Jadi Daerah Istimewa, Fadli Zon: Sangat Pantas karena Punya Peran Penentu NKRI

23 Juni 2026 - 02:07 WIB

UU Polri Terbaru Resmi Disahkan Presiden Prabowo Subianto, Ini Aturan Baru Soal Pensiun Hingga Disabilitas

23 Juni 2026 - 02:00 WIB

Pelantikan Direktur Psikotropika Dan Prekursor Deputi Bidang Pemberantasan BNN RI

22 Juni 2026 - 04:20 WIB

Dinas Pendidikan Kota Batam Diduga Kerahkan Guru dan Murid Dukung MBG

21 Juni 2026 - 04:08 WIB

Surat Prabowo ke FIFA, Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah ASEAN Cup 2026

21 Juni 2026 - 03:34 WIB

Trending di Nasional