Menu

Mode Gelap
Iskandarsyah Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi Daerah 11 Mobil Mewah di amankan Bareskrim, Diduga Terkait Pengembangan Kasus Narkoba di Planet 3 Kawal Moralitas Daerah, BEM STIS Al-Wafa Turun Aksi Desak Penerbitan Perwali dan Tolak LGBT BIAS Tanjungpinang, Rustam: Vaksin MR dan HPV Jadi Bekal Perlindungan Anak Sejak Sekolah DWP Kota Tanjungpinang Mengajar di Sekolah Rakyat, Tanamkan Semangat Meraih Cita-Cita Menuju Indonesia Emas 2045 Wali Kota Lis Darmansyah Dorong Dukungan Pusat untuk Infrastruktur Strategis Tanjungpinang

Nusantara

“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral”

badge-check


					“Label Kota Bersih Banjar?? Tapi Hanyalah Lipstik di Atas Sampah Moral” Perbesar

FaktaBatamNews.com, Banjar-Predikat “Kota Bersih” yang selama ini disandang Kota Banjar mendapat tamparan keras dari kalangan aktivis. Sandi Mardiana Putra, aktivis Muda Banjar setempat, melontarkan kritik pedas terkait temuan memprihatinkan di sejumlah aset publik, mulai dari kawasan Banjar Water Park (BWP) hingga Situ Leutik.

Sandi menilai, penghargaan kebersihan yang dibanggakan pemerintah daerah saat ini kontras dengan realita di lapangan. Menurutnya, citra tersebut hanyalah sebuah formalitas administratif yang menutupi degradasi moral di ruang publik.

Ironi di Balik Piala Penghargaan
Temuan sampah berupa alat kontrasepsi (kondom) dan botol minuman keras (miras) di area wisata BWP dan Situ Leutik menjadi pemantik kritik tersebut. Sandi menegaskan bahwa fenomena ini adalah bukti nyata lemahnya pengawasan aset daerah.

“Sangat ironis. Di satu sisi kita memajang piala kota bersih, tapi di sisi lain, kawasan BWP dan Situ Leutik dibiarkan menjadi ‘monumen’ kegagalan pemeliharaan aset. Sampah kondom dan botol miras itu tanda adanya pembiaran terhadap aktivitas negatif,” tegas Sandi.

Soroti “Kebersihan Semu” dan Pengawasan Mandul
Dalam pernyatannya, Sandi menggarisbawahi tiga poin krusial yang harus segera dievaluasi oleh Pemerintah Kota Banjar:
1. Kebersihan Semu: Kebersihan jangan hanya dipoles di jalan protokol untuk penilaian, sementara aset strategis dibiarkan menjadi “sampah moral”.
2. Pengawasan Mandul: Minimnya penerangan dan absennya patroli rutin membuat ruang publik beralih fungsi menjadi tempat maksiat.
3. Dampak Psikologis: Sebagai bagian dari Gerakan Pemuda Banjar I, Sandi mengkhawatirkan rusaknya mentalitas generasi muda jika area wisata justru menjadi lokasi bebas berbuat negatif tanpa pengawasan.

Desakan Tindakan Nyata
Sandi Mardiana Putra mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menuntut perbaikan fasilitas penerangan, pengetatan penjagaan di area rawan, serta memfungsikan kembali aset daerah agar tidak terbengkalai.

“Jangan biarkan label Kota Bersih ini berubah menjadi slogan kosong yang memalukan warga Banjar. Kebersihan sejati sebuah kota tercermin dari kebersihan lingkungan dan kesucian moralitas masyarakatnya,” tutupnya.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kawal Moralitas Daerah, BEM STIS Al-Wafa Turun Aksi Desak Penerbitan Perwali dan Tolak LGBT

15 Agustus 2026 - 01:12 WIB

BEM Politeknik Bisnis Digital Indonesia Gelar Diskusi Politik, Dorong Mahasiswa Kritis Kawal Demokrasi dan Kebijakan Publik

14 Agustus 2026 - 05:18 WIB

Menjelang Hari Damai Aceh 2026, Ketua SODARA Ajak Masyarakat Jaga Silaturahmi dan Dorong Penuntasan MoU Helsinki

13 Agustus 2026 - 15:25 WIB

Disperkimta Tangsel Diduga Kuat “Pelihara” Praktik Pungli Lewat Tim PHO, Aktivis Reformasi bersiap Bawa Bukti ke APH

13 Agustus 2026 - 12:47 WIB

Mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Palembang Kunjungi Pos UKK Serat Nanas Pangkul, Pelajari Inovasi Pengolahan Serat Daun Nanas

12 Agustus 2026 - 01:00 WIB

Trending di Nusantara