Faktabatamnews.com. Jakarta-Rifyan Ridwan Saleh resmi meluncurkan buku HMI in The Future: Gagasan, Arah Baru, dan Peran Strategis HMI di Indonesia Masa Depan dalam kegiatan Deklarasi dan Launching Buku yang digelar di Sadjoe Cafe & Resto, Jakarta Selatan, Selasa (29/9).
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membedah gagasan yang dituangkan Rifyan dalam bukunya sekaligus mendiskusikan arah masa depan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Hadir sebagai pembahas buku tiga tokoh dari latar belakang yang berbeda, yakni Ilham Akbar Mustafa, Staf Khusus Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bidang Transformasi Digital dan Penguatan Pelayanan Publik; Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul; serta Dr. (c) Ojak Situmeang, S.H., M.H., C.L.A., CLi CTLC, CMLC, CMed., Managing Partner sekaligus Co-Founder OS Law Partnership, praktisi hukum, legal auditor, mediator, konsultan hukum perpajakan, dan pengurus sejumlah organisasi profesi hukum.
Peluncuran buku berlangsung dalam momentum menuju Kongres HMI XXXIII di Lampung pada November 2026. Dalam kesempatan yang sama, Rifyan juga menyampaikan deklarasi dirinya sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI Periode 2027–2029.
Bagi Rifyan, deklarasi tersebut merupakan penegasan atas pilihannya untuk tidak membiarkan gagasan berhenti sebagai tulisan, tetapi memperjuangkannya melalui ruang pengabdian di HMI.
“Saya tidak ingin gagasan-gagasan dalam buku ini berhenti menjadi tulisan. Saya memilih untuk memperjuangkannya. Saya menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI Periode 2027–2029 karena saya ingin menghibahkan diri, pikiran, pengalaman, waktu, dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk umat dan bangsa melalui HMI,” ujar Rifyan.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan di HMI, menurut pandangannya, bukan semata persoalan jabatan, melainkan bagaimana mandat digunakan untuk menerjemahkan gagasan menjadi kerja dan pengabdian.
“Bagi saya, menjadi Ketua Umum bukanlah tujuan akhir. Jabatan hanyalah alat untuk menghidupkan gagasan. Yang jauh lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” katanya.
Ilham Akbar Mustafa, Staf Khusus Menteri P2MI bidang Transformasi Digital dan Penguatan Pelayanan Publik, mengapresiasi inisiatif Rifyan menghadirkan sebuah karya intelektual di tengah momentum menuju Kongres HMI. Menurutnya, terlepas dari posisi Rifyan sebagai kandidat, penerbitan buku tersebut merupakan upaya menghadirkan percakapan Kongres HMI yang lebih substantif.
“Upaya dia untuk menghadirkan karya lewat buku adalah upaya serius untuk menggeser percakapan Kongres HMI, dari sekadar perbincangan mobilisasi politik menuju percakapan substantif terkait pikiran dan gagasan,” ujar Ilham.
Menurut Ilham, tradisi menghadirkan karya intelektual perlu dirawat sebagai bagian dari kesadaran kolektif HMI. Gagasan yang dibukukan dapat menjadi ruang bagi publik HMI untuk melihat pemikiran serta arah organisasi yang ditawarkan oleh para kader. Ilham juga menekankan pentingnya rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikiran dalam melihat seseorang yang berada dalam proses kontestasi kepemimpinan.
“Kita tidak bisa menghukumi masa depan yang nisbi, tapi kita bisa menilai seseorang dari rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikirannya di masa lalu. Itu formula meritokratik untuk memilih pemimpin,” katanya.
Ia berharap apa yang dilakukan Rifyan dapat menjadi bagian dari tradisi intelektual yang juga diikuti kandidat-kandidat lainnya.
“Apa yang Rifyan mulai, dan saya berharap juga diikuti oleh kandidat-kandidat yang lain, adalah upaya untuk menjaga nyala lilin itu tetap menyala,” ujar Ilham.
Bagi Ilham, buku tersebut pada akhirnya akan menjadi bagian dari rekam jejak yang dapat diuji melalui konsistensi antara gagasan dan tindakan.
“Kelak, buku ini akan menjadi alat uji bagi Rifyan di masa depan; seberapa konsisten dan komit dia pada apa yang ditulisnya dan pada apa yang dilakukannya,” ungkapnya.
Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul, menilai gagasan yang dituangkan Rifyan dalam HMI in The Future relevan dengan perkembangan zaman.
Namun, menurutnya, berbicara mengenai masa depan tidak berarti meninggalkan sejarah. Masa lalu perlu dipelajari dan kondisi hari ini harus diamati sebagai pijakan untuk menentukan arah ke depan.
“Buku ini sangat relevan dengan zaman. Tetapi kita juga perlu belajar dari masa lalu dan mengamati masa kini. Dari sana kita berangkat untuk merebut masa depan yang lebih baik,” ujar Prof. Juanda.
Ia menilai perspektif tersebut penting terutama bagi kader-kader HMI yang saat ini sedang menjalani proses pembelajaran dan pengembangan diri.
“Khususnya bagi para kader HMI yang sedang berproses, jangan hanya melihat apa yang terjadi hari ini. Pelajari masa lalu, amati masa kini, kemudian siapkan diri untuk masa depan. Karena masa depan itu harus dipersiapkan dan diperjuangkan,” katanya.
Prof. Juanda juga menyampaikan alasan dirinya menyempatkan hadir dalam kegiatan tersebut meskipun harus menunda sejumlah agenda lainnya.
“Adinda Rifyan perlu didukung. Saya menunda kegiatan-kegiatan saya untuk menghadiri kegiatan ini agar bisa menyaksikan pimpinan di masa depan melalui Himpunan Mahasiswa Islam untuk Indonesia maju 2045,” ujar Prof. Juanda.
Pandangan lain disampaikan Dr. (c) Ojak Situmeang, S.H., M.H., C.L.A., CLi CTLC, CMLC, CMed., praktisi hukum yang juga aktif sebagai legal auditor, kurator dan pengurus, mediator, konsultan hukum perpajakan, serta fasilitator dalam berbagai forum nasional dan internasional. Ojak menyoroti karakter Rifyan yang ia lihat melalui gagasan-gagasan yang dituangkan dalam buku.
Menurut Ojak, Rifyan merupakan figur yang memiliki kemauan untuk mendengar sekaligus keberanian untuk menyampaikan pendapat, termasuk ketika pendapat tersebut berbeda.
“Kalau kita melihat dan mengamati gagasan-gagasan yang disampaikan Rifyan, saya melihat dia adalah seseorang yang mau mendengar dan berani menyatakan pendapatnya, bahkan jika itu berbeda. Bagi saya, keberanian untuk berpikir dan menyampaikan gagasan adalah sesuatu yang penting,” ujar Ojak.
Ojak yang berasal dari latar belakang non-Muslim juga menyampaikan pandangannya setelah membaca gagasan yang ditawarkan Rifyan mengenai masa depan HMI.
“Meskipun saya seorang non-Muslim, karena membaca gagasan besar saudara Rifyan, saya meyakini bahwa HMI bisa menjadi lebih berjaya di masa depan dengan gagasan, gerakan, dan kesiapan generasinya,” katanya.
Menurut Ojak, keberadaan gagasan yang kemudian diterjemahkan menjadi gerakan dan dipersiapkan untuk dilanjutkan oleh generasi berikutnya merupakan bagian penting dari keberlanjutan sebuah organisasi.
“Karena itu, bagi saya, HMI in The Future bukan hanya berbicara tentang HMI hari ini, tetapi juga tentang bagaimana gagasan itu dipersiapkan menjadi gerakan dan kemudian diwariskan kepada generasi yang akan datang,” tutur Ojak.
Bagi Rifyan, peluncuran HMI in The Future dan deklarasi sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI merupakan bagian dari ikhtiarnya untuk membawa gagasan ke dalam ruang pengabdian. Ia menyatakan kesediaannya untuk menghibahkan diri kepada umat dan bangsa melalui HMI.
“Saya menghibahkan diri untuk umat dan bangsa. Jika HMI memberi saya ruang untuk berjuang, maka saya akan menggunakan ruang itu untuk bekerja. Bukan untuk membesarkan diri, tetapi untuk membesarkan gagasan, membangun sistem, memperkuat kader, dan memastikan HMI tetap memiliki relevansi bagi Indonesia di masa depan,” tegas Rifyan.
Melalui HMI in The Future, Rifyan menuangkan gagasan mengenai arah baru dan peran strategis HMI dalam menghadapi perubahan zaman, dengan menempatkan gagasan sebagai titik awal, gerakan sebagai proses, dan generasi sebagai tujuan.
Dalam kegiatan tersebut, turut hadir sejumlah alumni HMI (KAHMI) serta para senior dan tokoh HMI yang hadir memberikan dukungan moral kepada Rifyan. Kehadiran mereka menjadi bagian dari suasana kekeluargaan dan dukungan antargenerasi dalam momentum peluncuran buku sekaligus deklarasi tersebut. Dukungan yang diberikan tidak hanya menjadi apresiasi atas lahirnya gagasan melalui HMI in The Future, tetapi juga menjadi dorongan bagi Rifyan untuk terus mengembangkan pemikiran dan pengabdiannya di HMI.












