Menu ✖

Mode Gelap
Dasco: Buruh dan Pengusaha Masih Berbeda Pandangan, DPR Kejar RUU Ketenagakerjaan hingga Oktober ISMI Kepri 2026–2030 Resmi Dikukuhkan, Misni Minta Amanah Dijalankan untuk Kemajuan Daerah Kasus Penipuan Proyek Fiktif Makan Bergizi: Etika Mulia Sari Resmi Ditahan di Padang Minggu Besok, Pemko Tanjungpinang Gelar Operasi Pasar Murah, Ayam Dijual Rp35 Ribu Terima Sertifikat Apresiasi HUT ke-5 AMSI Kepri, Lis Darmansyah Ajak Media Siber Bersinergi Bangun Tanjungpinang Mosi Tidak Percaya Pada Majelis, Hotmartua Cabut Sengketa Informasi Melawan Dispora Tangsel

Nasional

Bamsoet Kutuk Keras Serangan di Lebanon Tewaskan Tiga Prajurit TNI

badge-check


					Bamsoet Kutuk Keras Serangan di Lebanon Tewaskan Tiga Prajurit TNI Perbesar

FaktaBatamNews.com, Jakarta-Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum/Kepala Badan Bela Negara FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-POLRI), Bambang Soesatyo, mengutuk keras insiden serangan dua hari berturut-turut di Lebanon selatan yang menewaskan tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah menjalankan misi perdamaian dunia di bawah bendera PBB. Peristiwa tragis ini menambah daftar panjang korban dalam konflik yang terus memanas di kawasan tersebut, sekaligus menjadi peringatan serius bagi perlindungan pasukan penjaga perdamaian internasional.

“Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian adalah pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Dunia tidak boleh diam melihat prajurit yang membawa misi kemanusiaan justru menjadi korban konflik bersenjata, Saya mengutuk keras setiap bentuk kekerasan terhadap pasukan penjaga perdamaian,” tegas Bamsoet di Jakarta, Selasa (31/3/26).

Ketua DPR RI ke-20 sekaligus dosen Pascasarjana Universitas Pertahanan (UNHAN), Universitas Borobudur dan Universitas Jayabaya ini menjelaskan, insiden gugurnya tiga prajurit TNI terjadi dalam dua peristiwa terpisah dalam kurun waktu 24 jam. Berdasarkan laporan misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), dua prajurit TNI tewas akibat ledakan yang menghancurkan kendaraan mereka di wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan. Sementara satu prajurit lainnya gugur sehari sebelumnya akibat serangan artileri yang menghantam lokasi kontingen Indonesia yang berada di Kota Adshit al-Qusyar. Selain korban jiwa, dua personel lainnya mengalami luka, satu di antaranya dalam kondisi serius.

“Keberadaan pasukan perdamaian seharusnya dilindungi oleh semua pihak. Ketika mereka menjadi target, maka itu mencerminkan kegagalan kolektif dalam menjaga komitmen terhadap perdamaian dunia,” ujar Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional. PBB sendiri telah menyatakan bahwa tindakan semacam itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, mengingat mandat pasukan UNIFIL adalah menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi konflik di sepanjang perbatasan Lebanon–Israel.

“Menyerang pasukan perdamaian sama saja merusak fondasi perdamaian dunia. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi bentuk nyata pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini memaparkan, konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali meningkat sejak awal Maret 2026, memicu intensitas serangan di wilayah Lebanon selatan. Dalam situasi tersebut, pasukan UNIFIL, termasuk kontingen Indonesia, berada di garis depan untuk menjaga gencatan senjata dan melindungi warga sipil. Namun, meningkatnya eskalasi membuat posisi mereka semakin rentan terhadap serangan tidak terduga.

“Indonesia harus mendorong investigasi internasional yang transparan dan menyeluruh atas insiden ini. Pelaku harus dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum internasional,” tandas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran ini menambahkan, Indonesia sebagai salah satu kontributor terbesar pasukan perdamaian PBB, memiliki reputasi panjang dalam misi kemanusiaan dunia. Ribuan prajurit TNI telah bertugas di berbagai wilayah konflik, mulai dari Lebanon, Kongo, hingga Sudan, dengan membawa misi menjaga stabilitas dan melindungi masyarakat sipil.

“Pengorbanan para prajurit TNI ini tidak boleh sia-sia. Negara harus hadir memberikan penghormatan terbaik, sekaligus memastikan perlindungan maksimal bagi seluruh personel yang masih bertugas di daerah konflik,” pungkas Bamsoet

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dasco: Buruh dan Pengusaha Masih Berbeda Pandangan, DPR Kejar RUU Ketenagakerjaan hingga Oktober

27 September 2026 - 02:25 WIB

Aneu Nursifah Hadir di Forum Nasional, Sampaikan Pengalaman dan Wejangan Kepemiluan kepada Pelajar

26 September 2026 - 18:23 WIB

Presidium Pelajar Nasional Gelar Diskusi Nasional, Dorong Suara Pelajar Masuk dalam Reformasi Kepemiluan

25 September 2026 - 21:27 WIB

APBD Perubahan Kabupaten Anambas Tahun Anggaran 2026 Disetujui Sebesar Rp729 Miliar

25 September 2026 - 18:08 WIB

MK Jadwalkan Sidang Sengketa Ijazah SMA Gibran Rakabuming

25 September 2026 - 15:45 WIB

Trending di Hukrim