Menu ✖

Mode Gelap
Mosi Tidak Percaya Pada Majelis, Hotmartua Cabut Sengketa Informasi Melawan Dispora Tangsel Aneu Nursifah Hadir di Forum Nasional, Sampaikan Pengalaman dan Wejangan Kepemiluan kepada Pelajar Gebyar Shalawat, Weni Ajak Masyarakat Pererat Silaturahmi dan Cintai Rasulullah SAW Premier Law Firm Hadir di Batam, Amsakar Tekankan Pentingnya Kesadaran Hukum Masyarakat Wali Kota Lis Darmansyah Dukung Pengembangan Atlet Muda Lewat Danlanudal Cup Indoor Archery 2026 Perjusa SMPN 2 Tanjungpinang, Weni Tekankan Nilai Kebersamaan dan Kedisiplinan

Banten

Mosi Tidak Percaya Pada Majelis, Hotmartua Cabut Sengketa Informasi Melawan Dispora Tangsel

badge-check


					Mosi Tidak Percaya Pada Majelis, Hotmartua Cabut Sengketa Informasi Melawan Dispora Tangsel Perbesar

Fakatabatamnews.com. Serang-Hotmartua Simanjuntak, S.Hum., resmi mencabut permohonan penyelesaian sengketa informasi publik Register Nomor 068/IX/KI Banten-PS/2026 dikirm vie email ke Komisi Informasi Banten terhadap salah satu dinas di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Surat pencabutan itu ia kirim melalui email kepada Komisi Informasi (KI) Provinsi Banten pada Sabtu (26/9/2026).

Langkah ini merupakan buntut sidang pemeriksaan awal pada Senin (21/9/2026). Dalam sidang tersebut, Hotmartua meminta tiga anggota Majelis Komisioner, yakni Imron Mahrus, Ahmad Safarudin, dan Qori Kurniawan, mengundurkan diri. Pasalnya, ketiganya tengah ia laporkan atas dugaan pelanggaran kode etik melalui surat bernomor 1/LP-H.S/9/26.

“Ini bentuk mosi tidak percaya saya kepada Majelis. Saya tidak mau perkara saya diperiksa dan diputus oleh orang-orang yang sedang berstatus terlapor oleh saya sendiri. Potensi konflik kepentingannya sangat kuat,” tegas Hotmartua.

Menurut Hotmartua, kewajiban mundur itu bukan sekadar soal etika, melainkan perintah aturan. Ia merujuk Pasal 22 ayat (1) huruf b Peraturan Komisi Informasi Nomor 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi Publik. Pasal tersebut menyatakan Majelis Komisioner wajib mengundurkan diri apabila mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara dan/atau para pihak.

Ia juga mengutip Pasal 42 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Pasal itu melarang pejabat yang berpotensi memiliki konflik kepentingan menetapkan atau melakukan keputusan dan tindakan. Prinsip serupa, lanjutnya, juga dikenal dalam Pasal 17 ayat (5) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang mewajibkan hakim atau panitera mengundurkan diri apabila mempunyai kepentingan langsung atau tidak langsung dengan perkara yang sedang diperiksa, baik atas kehendaknya sendiri maupun atas permintaan pihak yang berperkara.

“Aturannya jelas, bunyinya wajib. Bukan saya yang memaksa Majelis, tetapi undang-undang. Ini sejalan dengan asas nemo judex in causa sua, tidak seorang pun boleh menjadi hakim dalam perkaranya sendiri,” ujarnya.

Hotmartua menilai sikap Majelis di persidangan justru memperkuat kekhawatirannya. Alih-alih mundur, Majelis mempersoalkan dasar laporannya, memintanya tidak melapor atas dasar suka atau tidak suka (like and dislike), hingga menyebut dirinya seolah meminta Majelis bersikap otoriter. Majelis juga sempat mempertanyakan apakah pengaduan etik yang diajukan di tengah sengketa merupakan upaya penyesatan.

“Dari sikap itu saja sudah terlihat Majelis tidak lagi netral terhadap saya sebagai Pemohon. Daripada saya melanjutkan proses yang sejak awal sudah cacat netralitas, lebih baik saya cabut,” katanya.

Meski begitu, Hotmartua menegaskan pencabutan ini bukan berarti ia menyerah. Ia mendesak Dewan Etik KI Banten segera memproses laporannya secara terbuka dan profesional.

“Saya berharap penegakan etik segera berjalan, demi terciptanya Majelis Komisioner yang kompeten, taat pada kode etik, dan patuh pada aturan yang berlaku. Komisi Informasi adalah lembaga yang menjaga keterbukaan, maka integritasnya harus dijaga lebih dulu,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, KI Provinsi Banten belum memberikan tanggapan resmi atas pencabutan permohonan maupun perkembangan laporan dugaan pelanggaran kode etik tersebut. (*/akm/

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PSMTI Banten Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Kebudayaan dengan Universitas Terbuka

25 September 2026 - 22:00 WIB

Debat Panjang Di Sidang Sengketa Informasi: 1 Lawan 3, Majelis Komisioner Komisi Informasi Banten Dilaporkan Etik Tetapi Menolak Mengundurkan Diri

22 September 2026 - 12:21 WIB

Dari Administrasi hingga Pemberdayaan Umat, 200 Masjid Serang-Cilegon Ikuti Workshop GMIB

19 September 2026 - 00:56 WIB

GMIB Gelar Workshop Manajemen Masjid Modern, Diikuti 200 Masjid di Serang dan Cilegon

17 September 2026 - 15:09 WIB

Dorong Generasi Antikorupsi, Penyuluh Antikorupsi Ajak Mahasiswa Hukum Perkuat Integritas

13 September 2026 - 17:55 WIB

Trending di Banten