Menu

Mode Gelap
Sekolah Terintegrasi Merah Putih, Menumbuhkan Mimpi di Tanah Rempang-Galang BP Batam Perkuat Transformasi Digital melalui Pengembangan Super Apps Kepala BP Batam: Sekolah Rakyat Merah Putih Prioritaskan Pendidikan Anak Keluarga Prasejahtera Tutup Orientasi Mabigus, Wawako Raja Ariza Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter Deadlock Mediasi 28 Juli 2026, Masyarakat Mesuji Lanjutkan Reklaming Lahan di Blok O:40, 41, 42 Wawako Raja Ariza: Event Olahraga Buka Ruang Promosi Produk UMKM

Daerah

Menu “Diet Ketat” MBG di Kota Banjar

badge-check


					Menu “Diet Ketat” MBG di Kota Banjar Perbesar

FaktaBatamNews.com, Banjar-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Banjar kini resmi memasuki fase “minimalis” yang mencengangkan. Aktivis mahasiswa, Sandi Mardiana Putra, kembali melontarkan kritik pedas setelah menemukan fakta lapangan yang jauh dari narasi kemakmuran pangan. Menurutnya, paket yang dibagikan lebih mirip bekal darurat pengungsi daripada investasi gizi nasional.

Trilogi Nutrisi: 3 Butir Kurma, Roti Murah, dan Susu “Irit”
Sandi menyoroti paket menu yang jauh dari standar kecukupan kalori untuk siswa. Ia menemukan bahwa dalam satu kotak makanan, komponen “bergizi” yang dijanjikan menyusut drastis menjadi kombinasi yang tidak masuk akal secara medis maupun ekonomi.

“Pemerintah sepertinya sedang melakukan eksperimen sosial: seberapa kuat anak-anak Banjar bertahan hidup hanya dengan 3 butir kurma dan sepotong roti harga 2000-an,” sindir Sandi dengan nada satir yang kental. “Susu kotak murni yang diberikan pun porsinya sangat irit. Kalau ditotal, nilai gizi dan harganya sangat jauh dari standar anggaran yang digembar-gemborkan.”

Analisis Sandi: Gizi yang Dipangkas Demi Cuan Vendor
Sandi Mardiana Putra menilai bahwa menu “tiga butir kurma” ini adalah bentuk penghinaan terhadap akal sehat rakyat. Ia mempertanyakan transparansi aliran dana yang seharusnya menjadi hak gizi anak sekolah, namun diduga bocor di tengah jalan menuju kantong vendor.

Matematika Ajaib: Anggaran per porsi yang katanya belasan hingga puluhan ribu rupiah, tapi faktanya hanya mewujud dalam roti yang teksturnya lebih mirip karet dan kurma yang jumlahnya bisa dihitung jari satu tangan.

Standar Ganda: Pejabat pamer foto makan mewah di media sosial, sementara anak sekolah di Banjar disuguhi menu yang lebih cocok disebut “camilan pengganjal lapar” daripada makan siang bergizi.

Susu Pemanis: Susu kotak yang dibagikan dinilai hanya sebagai pelengkap agar terlihat “wah” di kamera, tanpa mempertimbangkan apakah kandungan gulanya lebih tinggi daripada proteinnya.

“Jangan Jadikan Anak Banjar Objek Penghematan Anggaran!”
Dengan gaya bicaranya yang vokal, Sandi menegaskan bahwa jika program ini terus berjalan dengan cara “asal ada” seperti ini, maka Kota Banjar hanya akan melahirkan generasi yang mahir menghitung biji kurma, bukan generasi emas.

“Kita tidak butuh penghematan anggaran di piring anak-anak. Kalau vendornya tidak sanggup memberikan protein nyata—seperti telur atau daging—ya jangan dipaksakan. Jangan sampai kurma dan roti murah ini jadi saksi bisu betapa serakahnya tata kelola proyek MBG di kota ini,” tegas Sandi.

Sandi Mardiana Putra menutup kritiknya dengan tuntutan agar pemerintah Kota Banjar segera melakukan sidak mendadak ke gudang vendor dan membuka kontrak kerjasama agar publik tahu: ke mana larinya sisa uang dari harga roti 2000-an tersebut

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Tutup Orientasi Mabigus, Wawako Raja Ariza Tekankan Penguatan Pendidikan Karakter

2 Agustus 2026 - 20:24 WIB

Deadlock Mediasi 28 Juli 2026, Masyarakat Mesuji Lanjutkan Reklaming Lahan di Blok O:40, 41, 42

2 Agustus 2026 - 17:53 WIB

Anggaran Tenaga Ahli Pemprov Banten Naik Rp17 Miliar dalam Dua Tahun, Transparansi Dipertanyakan

2 Agustus 2026 - 13:19 WIB

KNPI DKI Jakarta Siap Berkolaborasi dengan DPN GPANN Perkuat Gerakan P4GN

2 Agustus 2026 - 12:11 WIB

YBM BRILiaN dan LKC Dompet Dhuafa Aceh Perkuat Keberlanjutan Program Bidan untuk Negeri, Tingkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat Sabang

31 Juli 2026 - 23:15 WIB

Trending di Daerah