Menu ✖

Mode Gelap
Lestarikan Warisan Melayu, Yoni Fadri Apresiasi Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026 Yusril Persilahkan Media Cek Belasan Ruang Bak Apartemen di Lapas Cibinong BP Batam Catat 1.182 Permohonan Perizinan OSS sejak September 2025 hingga September 2026 Jaga Air Waduk untuk Masyarakat, Batam Siapkan Solusi Kebutuhan Air Data Center lewat SWRO Soroti Dana Gempa Flores Rp 20 Miliar Manggarai Timur, Bakornas LKBHMI PB HMI Buka Posko Pengaduan Nasional Dan Desak Audit Total Bupati. Wako Lis Apresiasi Pandangan Fraksi, Jadi Bahan Penyempurnaan Perubahan APBD 2026

Tanjungpinang

Lestarikan Warisan Melayu, Yoni Fadri Apresiasi Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026

badge-check


					Lestarikan Warisan Melayu, Yoni Fadri Apresiasi Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026 Perbesar

Faktabatamnews.com. Kota Tanjungpinang-Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV Kepulauan Riau menggelar Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026 di Kompleks Balai Adat Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Jumat (25/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya Melayu.

Pembukaan Kemah Budaya tersebut turut dihadiri Plt. Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Tanjungpinang, Yoni Fadri, S.T., yang mewakili Wali Kota Tanjungpinang.

Yoni menyampaikan apresiasi kepada BPK Wilayah IV Kepulauan Riau yang telah memilih Pulau Penyengat sebagai lokasi pelaksanaan Kemah Budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam memperkuat identitas Tanjungpinang sebagai kota budaya sekaligus destinasi wisata sejarah.

“Pemko Tanjungpinang sangat berterima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Kepri yang telah melaksanakan Kemah Budaya di Pulau Penyengat. Pulau Penyengat adalah kebanggaan kita semua, bahkan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia,” ujar Yoni.

Ia menilai, keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini. Para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi generasi penerus yang ikut menjaga dan mengenalkan budaya Melayu kepada lingkungan sekitarnya.

“Harapan kita, anak-anak muda yang mengikuti Kemah Budaya ini dapat menjadi penjaga budaya Melayu di masa depan. Jadilah pelopor dan teruskan ilmu serta pengalaman yang diperoleh kepada teman-teman lainnya,” pesannya.

Yoni menegaskan, warisan budaya Melayu di Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang sangat penting dan perlu dijaga secara bersama-sama. Mulai dari Gurindam 12, Masjid Sultan Riau, hingga manuskrip dan tradisi Melayu yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

“Tentu kegiatan ini sangat berdampak positif bagi generasi penerus untuk menjaga dan mempertahankan adat Melayu. Mereka inilah yang nantinya akan menjaga Gurindam 12, Masjid Sultan Riau yang bersejarah, serta manuskrip-manuskrip kita. Jangan sampai generasi muda lebih mengenal budaya luar daripada budayanya sendiri,” tegas Yoni.

Sementara itu, Kepala BPK Wilayah IV Kepulauan Riau, Drs. Jumhari, mengatakan Pulau Penyengat dipilih sebagai lokasi Kemah Budaya karena memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang sangat kuat. Pulau tersebut merupakan salah satu kawasan penting dalam perkembangan peradaban Melayu dan memiliki berbagai warisan budaya yang masih hidup hingga saat ini.

“ Kemah Budaya ini bukan sekadar kemah biasa. Ini merupakan upaya untuk mengembalikan anak-anak muda kepada akar budayanya sekaligus menjadi ruang tumbuhnya berbagai tradisi yang berkembang di lingkungan Kesultanan Melayu, seperti Gurindam 12, pantun, boria, termasuk zapin,” jelas Jumhari.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan, termasuk pengenalan warisan budaya takbenda kepada generasi muda.

Selama tiga hari dua malam, para peserta yang berasal dari kalangan pelajar akan mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan praktik kebudayaan. Di antaranya napak tilas sejarah Pulau Penyengat, lokakarya manuskrip kuno dan aksara Jawi, lokakarya Gurindam 12, pelatihan permainan tradisional Melayu, serta aksi bersih-bersih situs cagar budaya.

Selain kegiatan edukasi, peserta juga akan mendapatkan pengalaman melalui malam apresiasi budaya yang menghadirkan penyanyi bergenre Melayu, Al Hafzh dari Riau.

Melalui Kemah Budaya ini, para peserta tidak hanya diajak mempelajari sejarah, tetapi juga merasakan secara langsung nilai-nilai adat, bahasa, seni, dan warisan manuskrip Melayu yang tumbuh dan berkembang di Pulau Penyengat.

Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga kebudayaan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Red)

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wako Lis Apresiasi Pandangan Fraksi, Jadi Bahan Penyempurnaan Perubahan APBD 2026

25 September 2026 - 10:56 WIB

Wako Lis Sampaikan Ranperda Perubahan APBD 2026 kepada DPRD

25 September 2026 - 10:53 WIB

Pawai Lampion Festival Mooncake Semarak, Sekda Zulhidayat: Simbol Keharmonisan dan Keberagaman Tanjungpinang

25 September 2026 - 10:47 WIB

Museum dan Monumen Bahasa Nasional Mulai Dibangun di Pulau Penyengat

25 September 2026 - 10:42 WIB

Hadiri Paripurna Hari Jadi ke-24 Kepri, Wawako Ariza Ajak Perkuat Kolaborasi untuk Kemajuan Daerah

24 September 2026 - 19:28 WIB

Trending di Tanjungpinang