Menu ✖

Mode Gelap
Batam Masuk 10 Besar Pelabuhan dengan Pertumbuhan Konektivitas Tertinggi Dunia Pemko Tanjungpinang apresiasi dan dukung kinerja KPU terkait pemutakhiran data pemilih berkelanjutan. Kemenekraf Ingin Nilai Ekspor Jasa Kreatif Digital Lebih Terukur Ranperda Perubahan APBD 2026 Disahkan, Wako Lis Prioritaskan Program yang Bersentuhan Langsung dengan Kebutuhan Masyarakat Ranperda Pembangunan Industri Disepakati, Wako Lis Harapkan Dorong Kegiatan Ekonomi Nyata bagi Masyarakat DPP Gencar Sarankan Gubernur Bagikan Dana Banpres ke Puluhan Ribu Penderita ISPA

Kepri

Limbah Minyak Cemari Laut Kepri, Gubernur Ansar Desak Penangkapan Kapal

badge-check


					Limbah Minyak Cemari Laut Kepri, Gubernur Ansar Desak Penangkapan Kapal Perbesar

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meminta aparat berwenang menangkap kapal-kapal yang nekat membuang limbah minyak hitam ke laut, setelah pencemaran kembali terjadi di wilayah pesisir Kabupaten Bintan dan Lingga.

Pencemaran limbah minyak hitam itu disebut telah berulang hampir setiap tahun dan berdampak serius terhadap ekosistem laut, kawasan wisata, hingga kenyamanan wisatawan mancanegara.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan persoalan tersebut sudah dibahas hingga tingkat pemerintah pusat, namun penanganannya dinilai belum maksimal.
“Sudah dirapatkan sampai ke pemerintah pusat. Tapi hasilnya memang belum maksimal,” kata Ansar, Senin (9/2).

Ansar meminta TNI AL, aparat penjaga laut, serta instansi terkait meningkatkan pengawasan secara intensif, terutama pada malam hari. Ia menduga pembuangan limbah dilakukan secara diam-diam untuk menghindari pengawasan.
“Karena ini merugikan kita. Turis komplain. Kalau sudah kena minyak, susah dibersihkan. Ekosistem laut juga rusak,” tegasnya.

Menurut Ansar, kapal yang terbukti membuang limbah minyak di perairan Kepri harus ditindak tegas dan diproses hukum, agar memberikan efek jera dan mencegah kejadian serupa terulang.

Namun hingga kini, pemerintah daerah belum dapat memastikan asal kapal pembuang limbah tersebut, apakah berasal dari wilayah Batam, Johor, Singapura, atau jalur pelayaran internasional lainnya.
“Kita belum bisa pastikan dari mana asalnya. Tapi biasanya mereka buang limbah itu tengah malam. Jadi memang harus ada pengawasan ketat,” ujarnya.

Sementara itu, pegiat Aliansi Lingkungan dan Manusia (ALIM) Kepulauan Riau menilai pencemaran limbah minyak hitam di pesisir Pantai Trikora Bintan dan wilayah Lingga harus diusut hingga tuntas.

Menurut ALIM, pencemaran tersebut tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan laut, tetapi juga berpotensi merusak sektor pariwisata, yang menjadi salah satu andalan ekonomi Kepri.
“Tumpahan minyak bisa memicu kematian biota laut seperti ikan, ketam, dan organisme lainnya. Ini ancaman serius,” ujar pegiat ALIM Kepri, Kherjuli.

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan lintas batas. Dari sisi geopolitik, negara dinilai belum optimal mencegah kejahatan lingkungan yang bersifat lintas negara.
“Negara seolah belum berhasil mencegah kejahatan lingkungan, baik di perairan internasional maupun perairan dalam negeri,” katanya.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kepri mencatat, lebih dari 1.000 karung limbah minyak hitam telah dibersihkan dari kawasan Pantai Trikora, Bintan. Sementara di wilayah Lingga, ditemukan sedikitnya puluhan karung limbah minyak yang terdampar di pesisir pantai.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Batam Masuk 10 Besar Pelabuhan dengan Pertumbuhan Konektivitas Tertinggi Dunia

30 September 2026 - 12:38 WIB

Dinkes dan YKI Kepri Laksanakan Program Sejuta Vaksin KORPRI untuk ASN dan Keluarga

30 September 2026 - 01:08 WIB

Wagub Kepri Sambut Praktisi Medis Internasional, Kesempatan Bangun Jejaring dari Berbagai Negara

30 September 2026 - 00:05 WIB

UNCTAD Catat Batam Masuk 10 Besar Konektivitas Pelayaran Tertinggi di Dunia

29 September 2026 - 21:54 WIB

Penanganan Kemiskinan Berkinerja Positif, Pemko Batam Terus Perkuat Perlindungan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi

29 September 2026 - 18:40 WIB

Trending di Batam